Rabu, 06 Februari 2013

PETA TOPOGRAFI

Topografi berasal dari bahasa yunani, topos yang berarti tempat dan graphi yang berarti gambar. Peta topografi memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Peta topografi menyediakan data yang diperlukan tentang sudut kemiringan, elevasi, daerah aliran sungai, vegetasi secara umum dan pola urbanisasi. Peta topografi juga menggambarkan sebanyak mungkin ciri-ciri permukaan suatu kawasan tertentu dalam batas-batas skala.
Peta topografi dapat juga diartikan sebagai peta yang menggambarkan kenampakan alam (asli) dan kenampakan buatan manusia, diperlihatkan pada posisi yang benar.Selain itu petatopografi dapat diartikan peta yang menyajikan informasi spasial dari unsur-unsur pada muka bumi dan dibawah bumi meliputi, batas administrasi, vegetasi dan unsur-unsur buatan manusia.
Garis ketinggian pada peta (bidang dua dimensi) dan di lapangan (ruang tiga dimensi).Garis ketinggian pada peta membentuk garis yang berbelok-belok dan tertutup serta merupakan rangkaian dari titik-titik. Kegunaan dari garis ketinggian adalah untuk mengetahui berapa tingginya suatu tempat dari permukaan laut.
  
 Gambar 1.1 Garis Kontur dan Permukaan Bumi

  Garis ketinggian mempunyai karakteristik sebagai berikut:
Ø  Garis ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis ketinggian yang lebih tinggi.

Ø   Garis ketinggian tidak akan saling berpotongan dan tidak akan bercabang.

Ø  Pada daerah yang landai garis ketinggian akan berjauhan, sebaliknya pada daerah yang terjal akan saling merapat.

Untuk kondisi daerah yang khusus (seperti tebing, kawah, jurang), garis ketinggiannya digambarkan secara khusus pula :
Ø  Garis ketinggian yang menjorok keluar,merupakan punggung bukit dan selalu seperti bentuk huruf ‘U’.
Ø  Garis ketinggian yang menjorok ke dalam, merupakan lembah dan selalu
Ø  seperti bentuk huruf ‘V’.
Ø  Selisih tinggi antara dua garis ketinggian yang berurutan (interval) adalah setengah dari bilangan ribuan skala, (contoh:  1/2000 x 100.000 = 50 meter).  Kecuali bila dinyatakan dengan ketentuan lain.
Ø  Garis ketinggian pembantu, menyatakan ketinggian antara dua garis ketinggian yang berurutan.
Ø  Warna garis-garis ketinggian pada peta digambarkan dengan warna coklat ataupun hitam.
 
 Gambar 1.2 Garis kontur


Garis ketinggian pada peta membentuk garis yang berbelok-belok dan tertutup serta merupakan rangkaian dari titik-titik. Kegunaan dari garis ketinggian adalah untuk mengetahui berapa tingginya suatu tempat dari permukaan laut.
Model tiga dimensi mempermudah pembacaan kontur pada suatu tempat di atas permukaan bumi karena langsung terlihat ketinggian tiap garis ketinggiannya, daripada membaca model dua dimensi seperti pada gambar 2. Untuk mencapai hal tersebut, data input yang berupa peta topografi dianalisa dan diproses menjadi output model objek tiga dimensi.
Unsur-unsur penting yang terdapat dalam suatu peta topografi antara lain :
a.    Judul Peta dan Nomor lembar Peta
Judul peta merupakan nama daerah yang tercangkup dalam peta, sedangkan nomor lembar peta didasarkan atas sistem pembagian nomor peta ini disebut “quadrangle”, yaitu :
ü  Sistem quadrangle di Indonesia
   Tiap negara mempunyai cara-cara tersendiri dalam membagi wilayahnya menjadi kotak-kotak tersebut diberi nomor menurut sistem tertentu. Sistem pembagian nomor peta ini disebut “Quadrangle System” dari negara yang bersangkutan. Di Indonesia sistem pembagian peta topogrfi ada dua :
ü  Sistem pembagian lama
Sistem ini dibuat pada zaman penjajahan Belanda. Sistem ini hanya khusus dipakai di Indonesia, dimana 0o garis bujur dihitung dari Jakarta. Untuk setiap skala yang berbeda terdapat skala yang berbeda terdapat notasi yang berbeda pula, seperti sbb:
1.   Peta berskala 1:100.000 mempunyai ukuran 20 x 20 dan diberi nomor dengan angka ke arah horizontal, dengan makin besar arah vertikal menggunakan angka Romawi dengan makin kebawah makin besar. Jadi peta berskala 1:100.000 mempunyai nomor lembar seperti
2.   Peta berskala 1 : 100.000 dibagi menjadi 4 bagian yang masing-masing mempunyai skala 1 : 50.000 dan diberi notasi A, B, C dan D dimulai dari kiri atas. Jadi peta berskala 1 : 50.000 mempunyai nomor lembar peta seperti : 45/XI-A; 56/XLI-D dst.
3.   Peta berskala 1 : 100.000 ini dibagi menjadi 16 bagian masing-masing mempunyai skala 1 : 25.000 dan diberi notasi huruf kecil dari a sampai q kecuali huruf j. Jadi peta dengan skala 1 : 25.000 mempunyai nomor lembar peta seperti : 45/XI-a; 56/XLI-f dst. Nomor lembar 45/XI, Nomor lembar 45/XI-ANomor lembar 45/XI-a
ü  Sistem pembagian peta yang baru
Yaitu sistem pembagian peta yang disesuaikan dengan sistem international.Pembagian ini menjadi skala 1: 100.000 dengan ukuran 20 x 30 dan titik 00 dihitung dari Greenwich dan di beri notasi makin besar kearah kanan, dan secara vertikal notasi paling besar kearah bawah.
Cara penulisannya adalah menggabungkan notasi horizontal dengan vertikalnya, ditambah notasi dari masing-masing kotak.

 
VI
I
III
II




a.       Indeks Peta
     Petunjuk tentang kedudukan peta terhadap peta-peta yang ada.disekitarnya. Biasanya  ditempatkan disudut kiri bawah peta. Umumnya lembar peta tersebut diletakkan pada bagian tengah indeks peta.
b.      Orientasi peta
Merupakan bagian yang menunjukkan arah peta. Garis batas pada kedua sisi samping peta berarah utara selatan, dalam hal ini adalah arah utara selatan sesungguhnya bukan utara kutub magnetis.
c.       Skala
Skala adalah perbandingan jarak horizontal sebenarnya dengan jarak dipeta. Perlu diingat bahwa semua jarak yang diukur pada peta adalah menunjukkan jarak-jarak horizontal.
Macam-macam skala:
1.         Skala fraksi (representatif fraktion scale).
2.         Skala verbal.
3.         Skala Garis.
d.      Indeks Administrasi
Merupakan bagian yang menunjukkan pembagian wilayah secara administrasi. Pembagian ini disesuaikan dengan batas kecamatan, kabupaten atau provinsi. Hal ini penting untuk memahami atau memahami atau mengetahui kemana harus dilakukan pengesahan surat ijin sebelum penyelidikan lapangan dari peta yang bersangkutan.
e.       legenda
pada peta topografi banyak digunakan simbol/ tanda untuk mewakili bermacam-macam keadaan dilapangan. Penjelasan tanda/ simbol yang pergunakan untuk dikelompokkan dan tercakup dalam legenda. Legenda ini biasanya diletakkan pada bagian bawah peta.
f.       Edisi Peta
Edisi peta adalah keterangan tentang pembuatan peta tersebut pada tahun berapa dibuat. Edisi peta ini sangat penting untuk peta pada daerah yang proses eksogennya sangat berpengaruh dalam pembentukan bentang alam sehingga daerah tersebut sangat mudah mengalami perubahan.
g.      Garis Kontur
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang terletak ketinggian yang sama dari permukaan laut. Garis kontur akan menunjukkan bentuk dan penyebaran mofologi. Disamping itu juga memiliki pola yang khas untuk setiap bentang alam yang dikontrol oleh pengontrol yang berbeda. Misalnya bentang alam struktural akan menunjukkan pola kontur yang berbeda. Misalnya bentang alam struktural akan menunjukkan pola garis kontur yang berbeda.
Punggungan Gunung - Punggungan gunung merupakan rangkaian garis kontur berbentuk huruf U dimanaU dari huruf U menunjukan tempat atau daerah yang lebih pendek dari kontur diatasnya. Lembah atau SungaiLembah atau sungai merupakan rangkaian garis kontur yang berbentuk n (huruf V terbalik)jung  dengan Ujung yang Tajam. Daerah landai datar dan terjal curam Daerah datar/landai garis konturnya jarang, sedangkan daerah terjal atau curam garis konturnya rapat.
h.      Interval Kontur 
Interval kontur adalah jarak vertikal antar garis yang satu dengan garis kontur yang lainnya secara berurutan. Pada peta skala 1:100.000 dicantumkan interval konturnya 50 meter.Untuk mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408-244/JICA TOKYO-1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang baku, namun dapat dicari dengan Mencari dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misalnya titik A dan B Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B) Hitung jumlah kontur antara A dan B Bagilah selisih ketinggian antara A-B dengan jumlah kontur antara A-B hasilnya adalah interval kontur.
Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan orientasi harus juga digunakan bentuk-bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:Lembah antara dua puncakLembah yang curam Persimpangan jalan atau ujung desa.
Perpotongan sungai dengan jalan setapak Percabangan da kelokan sungai, air terjun, dan lain-lain Untuk daerah yang datar dapat digunakan, persimpangan jalan dan percabangan sungai, jembatan dan lain-lain.
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelum berjalan catatlah: Koordinat titik awal (A) Koordinat titik tujuan (B) Sudut peta antara A – B Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A – B Berapa panjang lintasan antara A – B dan berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A – B Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalahharus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan peta Gunakan kompas untuk melihat arah kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum. Perkirakan berapa jarak lintasan.
Misalnya, medan datar 5 km ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit. Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan. Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lainnya-lainnya. Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuatkan lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horizontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.
Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tanda-tanda tertentu di peta.Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Camp berada pada koordinat titik A (3989 : 6360) + 1400 m dpl. Basecamp memerintahkan tim Camp agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 m dpl. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimulai dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y). Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tarik garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A - T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan sistem Azimuth (0" - 360°) searah putaran jarum jam. Sudut ini berguna untuk mengorientasikan arah dari A ke T. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T.
Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan.Harus dipahami betul bentuk garis-garis kontur.Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh: Kemiringan lereng dan Panjang lintasan Keadaan dan kondisi medan (misalnya hutan lebat, semak berduri atau pasir) Keadaan cuaca rata-rata Waktu pelaksanaan (pagi, siang atau malam) Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa. Cara Koordinat Geografis Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 44' 27,79". Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0).
Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu: Cara koordinat peta Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan. Penunjukan koordinat ini meggunakan: Sistem Enam Angka, misalnya: koordinat titik A (374:622), titik B (377:461) Cara Delapan Angka, misalnya: koordinat titik A (3740:6225), titik B (3376:4614).
 Cara Koordinat Geografis Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 44' 27,79". Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0).Untuk koordinat geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.
Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam.Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem azimuth (0° - 360°). Sistem Azimuth adalah sistem yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung atau diukur sesuai dengan arah jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan.
Sistem perhitungan sudut dibagi menjadi dua berdasarkan sudut kompasnya. Back azimuth: bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°. Bila sudut kompas < 1080 =" 37,1km" km =" 3.710.000" 1km =" 3.710.000" 000 =" 74,2" 1 =" 1.855.000cm">.









Daftar Pustaka

Lobeck, AK. (1939), Geomorphology, An Introduction to the study of Lanscape, New York and London: Mc Graw-Hill Book Company. Inc.
Sudarja Adiwikarta dan Akub Tisnasomantri, (1977), Geomorfologi Jilid I, Bandung: Jurusan Pend. Geografi IKIP Bandung.
Sukmantalya, I Nyoman K, Drs. M.Sc. (1995), Pengenalan Secara Tinjau Geomorfologi dan Terapannya Melalui PJ Untuk Inventarisasi Sumberdaya Lahan, Cibinong: Bakosurtanal.
Suprapto Dibyosaputro, Drs. M.Sc., (1997), Geomorfologi Dasar, Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
Sutikno (1987), Geomorfologi Konsep dan Terapannya “Makalah”, Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
Suwijanto, Ir, (tanpa tahun), Geomorfologi “Makalah”, Kursus Pendalaman Meteri Ilmu Kebumian Bagi Guru SMU Tingkat Regiaonal Jawa Tengah, Kebumen: LIPI UPT Lab. Alam Geologi Karangsambung.
Van Zuidam, R.A, dan F.I. van Zuidam Cancelado, 1979. Terrain Analysis And Classification Using Aerial Photographs, International Institute for Aerial Survey and Earth Science (ITC) 350, Boulevard Al Enschede, The Netherlands.